Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS
Showing posts with label Celotehku. Show all posts
Showing posts with label Celotehku. Show all posts

Monday, October 16, 2017

Akankah Cinta Pertama Bisa Menjadi Cinta Yang Sejati?







Cinta Pertama pasti akan meninggalkan kesan yang begitu mendalam hingga akhir hayatpun akan selalu terkenang. Dan.... apalah jadinya kalau Cinta Pertamalah yang akan menjadi Cinta Sejati seseorang, tentu saja meski jalan yang dilalui sangatlah panjang, ada banyak rasa dan kejutan yang mengiringi namun jika terus berfikir positif maka pada akhirnya akan membahagiakan. (Khaer_Nisak)

......



Hai... Cinta pertamaku! Apa Kabar? Lama tak jumpa, rindu rasanya *eaaaa 😁😁
Well, katanya gak mau pacaran sebelum menikah kok punya cinta pertama? Ehhhhm... munafik nih *ehhh😞


Dan cerita ini aku mulai ketika rasa kesepian menyerangku, jiwa ini benar-benar sepi dan gersang dan akhirnya memori di 4 tahun silam kembali membayang. Andai waktu itu dengan lugasnya aku bisa menerima hatimu tentu jalan ceritanya tak akan serumit ini. Kita saling tahu, bahwa kita saling menyukai tapi dengan begitu saja aku menyembunyikan rasa dan pura-pura tak membutuhkanmu. Dan ketika rasa ini tak lagi terbendung, aku bisa saja mulai menghubungimu, memulai obrolan meskipun itu hanya lewat sosial media, namun hati ini diselimuti ragu, apa rasamu masih sama denganku saat ini? Apa rasamu tidak berubah meski waktu dan jarak sudah memisahkan kita? Apa masih ada aku dihatimu? Ada sosok lainkah yang sudah menggantikanku dihatimu? Atau justru dengan kehadiranku akan mengusik hidupmu yang sekarang?

Masih teringat dengan jelas, kapan dimana serta bagaimana detailnya kamu mengungkapkan cinta dihadapanku, jujur saat itu aku terbuai dengan segala rayu dan tingkah mengagumkanmu itu tapi hati dan pikiranku harus tetap bisa aku kendalikan sepenuhnya, aku tak mau terjerumus kedalam cinta yang semu, apalagi saat itu usiaku baru 17 tahun, sedangkan kau masih rapi dengan seragam putih abu-abumu. Yang aku inginkan hanyalah cinta abadi yang bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki.

Dan sejak aku tak bisa memberikan kejelesan terhadapmu, kau mulai mencari sosok lain disampingmu. Bahasa tubuh memang bisa dikendalikan otak, tapi tidak dengan hati. Sakit rasanya kau bersanding dengan yang lain didepan mataku, ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya dan secepat mungkin menyerat wanita itu untuk segera menjauh darimu, tapi apalah dayaku, Siapa diriku? Apa hakku berbuat seperti itu? Bukankah diriku yang memutuskan untuk tidak menerima cintamu waktu itu?

Kemudian setelah peristiwa itu, waktu berlalu begitu saja. Dengan sekuat tenaga aku mencoba melupakanmu. Melupakan semua kenangan manis bahkan kenangan terburuk bersamamu aku kubur dalam-dalam jauh lebih dalam hingga semua orang tak tau bahwa aku pernah sebahagia kemudian sesakit itu karenamu. Sampai pada akhirnya ada sosok lain yang mulai mendekatiku. Dia datang dengan begitu sopannya hingga mampu mengisi dan menempati ruang dihatiku. Dia menerimaku dan begitu juga sebaliknya, akupun begitu. Meskipun belum ada kata "pacaran" diantara kami berdua, kami tetap menikmatinya, kami jalani hidup bersama, saling bercerita, saling mengisi dan juga saling melengkapi hingga kami sendiri lalai hubungan apa yang tengah kami jalani saat ini, Saling cinta tapi tak ada kata ikrar yang mengikat. Akupun merasa senang karena ada sosok lain yang hadir dan bisa meninabobokkan aku dari kegelisahanku semenjak kita tak lagi saling berinteraksi.

Aku bahagia, sekali lagi aku bahagia menjalani hubungan seperti ini, Aku mengerti Dia dan Dia bisa mengerti aku sepenuhnya. Aku bahagia karena aku merasa sudah tak sendiri lagi. Waktu berjalan begitu saja, hingga hubungan kami bertahan sampai setahun lamanya. Dan tiba-tiba kebahagiaanku mulai terusik ketika mulai hadir sosok perempuan lain diantara kami. Dia mulai menyangsikan perasaanku selama ini. Dia mulai lelah dan goyah dalam mencintaiku, Dia memaksaku dan menekanku untuk mengatakan Aku cinta dan bersedia menjadi pacarnya, padahal sejak awal Aku sudah mengatakan kalau Aku tidak mau menjalin hubungan dalam status "pacaran". Hanya karena hal itu tentu saja Aku tidak bisa merubah keyakinanku semudah itu. Antara takut kehilangan dan juga keyakinan yang harus Aku kokohkan, akhirnya aku membiarkannya untuk memilih. Aku relakan Dia memilih terhadap siapa saja yang menurutnya bisa membahagiakannya. 

Sekali lagi aku jatuh dan rasanya jauh lebih sakit dari sebelumya. Karena hati ini sudah terlanjur mencinta dan percaya terhadapnya. Setahun lamanya tak berarti apa-apa, hingga Dia memutuskan untuk meninggalkanku dan memilih untuk menjalin hubungan dengan perempuan yang baru datang dihadapannya. Hancur benar-benar hancur, hampir gila Aku karenanya. Namun meskipun begitu Aku tetap rela dan harus merelakan sesuatu yang memang bukan milikku, bukan hakku. 

Aku mulai bangkit dan menata kembali hatiku, berharap ada sosok lain yang lebih baik yang bisa mengisi hari-hariku dan tidak membiarkan Aku tenggelam dalam kesendirianku. Aku biarkan waktu berjalan begitu saja, Aku sibukkan diriku dengan segala aktifitasku untuk mengusir kegalauan dan juga kekosongan jiwaku. Tapi apalah dayaku, Aku hanyalah manusia biasa. Kisah cinta pertamaku kembali mengiang-ngiang dan membayangi hidupku. Suaramu, senyummu, lambaian tangamu dan segala gerak gerikmu bisa Aku temukan didalam sosok pria yang lain. Jiwaku semakin gila karenanya, sosoknya benar-benar mirip atau mungkin sengaja aku mirip-miripkan hanya karena hatiku masih terpaut denganmu. Bahagia rasanya bisa melihat sosokmu dalam raga yang lain. Rasanya begitu membahagiakan, serasa rindu yang selama ini aku simpan mampu tersampaikan. Oh Tuhan.... Segila inikah Aku? Tolong kendalikan rasa ini Tuhan? Aku tak mau terjebak dalam masa lalu yang tak jelas kemana arahnya, Aku ingin melanjutkan hidupku menjadi sosok yang lebih baik. 

Well, antara yakin dan ragu dan juga antara percaya serta ilusi, kini aku hidup dalam imaji. Andai peristiwa 4 tahun yang lalu, aku tak senaif dan sekuat pendirianku untuk mengejar cita-citaku pasti saat ini aku tidak bisa merasakan nikmatnya dirundung rasa nano-nano seperti ini. Ahh... sudahlah, Tuhanlah Sang Skenario kehidupan, ikuti saja alurnya, nikmati setiap peristiwa yang ada toh jodoh juga gak akan kemana. Apakah nantinya aku bisa menjadi pendampingmu atau dengan yang lainnya, aku yakin bahwa ketika melakukan segala sesuatu yang datangnya dari hati pasti sampai pula dengan hati yang dituju. Tetap yakin dan pegang teguh "Hanya orang-orang yang tuluslah yang mampu mengerti dan memahami ketulusan seseorang". Keep Husnudhon 😁😁

Sunday, May 29, 2016

Nasib Si "Secret Admirer"




Mengagumimu hanya menyakitiku

Yah,,, setidaknya itulah kata-kata yang bisa menggambarkan kegelisahan hatiku saat ini. Aku menyukaimu bukan karena hanya fisikmu yang begitu mempesona, bukan pula harta ibu bapakmu yang melimpah ruah, bukan pula karena pangkat yang kamu miliki tetapi aku mengagumimu lebih dari itu. Keadaan memaksaku dan terus membenamku dalam rasa rendah diriku. Aku siapa? kamu siapa? tapi kenapa rasa ini terus saja menyiksaku? Tuhannn ... tolong hentikan rasa ini, aku tak ingin memendamnya terlalu dalam, aku takut kecewa pada akhirnya. 


    
      Lorong kamar putri dipenuhi dengan gantungan baju yang masih setengah basah. Rupanya hujan tadi malam begitu besar sehingga atap pondok pesanteran yang sudah begitu usah tak lagi mampu menahan derasnya air yang jatuh. Sedangkan Mila, Santri putri yang sedari tadi sibuk memgatur adik-adiknya, bukan adik kandung tentunya akan tetapi adik yang dititipkan oleh pengasuhnya. 5 tahun sudah Mila menimba ilmu disana, dan kini akhirnya dia diberi tugas untuk menjadi "Khodim" para Ustadzah yang mendidik para santri disitu. 

"Ustadzah, semua sudah siap!"
"Baik, santri-santri putri sudah boleh istirahat. Nanti jam 1 siang kumpul di aula untuk musyawarah memepersiapkan haflah akhirussanah"
"Ya, Ustadzah ..."

     Mila merasa begitu lelah hari ini, semua tenaga dan waktunya terkuras habis untuk mengurusi kegiatan di ponpesnya. Dia berjalan menuju dapur, dan mengambil segelas air putih kemudian duduk dan meminumnya dengan begitu khidmatnya. Belum sempat ia mengambil piring untuk makan siang, Dia sudah dipanggil oleh Bu Nyai untuk menyiapkan ruang tamu, karena akan ada tamu agung yang akan hadir menyambangi Pak Kyai. Dia segera bergegas menghabiskan air dalam gelas itu, dan memakai sendal jepit usangnya sebagai alas. 

     Satu jam berlalu dan Milapun sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Dia segera menemui Bu Nyai untuk berpamitan, namun ditengah jalan Dia bertemu dengan Gus Candra, putra pertama pak Kyai yang baru saja pulang mondok dari Jombang, Jawa Timur. 6 tahun sudah lamanya, beliau menimba ilmu disana, tidak hanya ilmu agama yang beliau dalami, melainkan ilmu umum juga. Bukan rahasia lagi jika seorang Gus Candra memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tidak hanya itu, badannnya yang gagah perkasa, berkulit putih bersih, parasnya yang begitu menawan, dagu panjangnya yang diselimuti janggot tipis membuat senyumya begitu meneduhkan bagi siapa saja yang memandangnya. Satu hal lagi yang membuat senyumya begitu manis yakni tahi lalat kecil yang menempel tepat  diatas bibir mungilnya itu. 

Braaaakkkk ...
     Rupanya Mila sudah kelelahan, sehingga badannya mulai sempoyongan dan akhirnya ia menabrak pagar bambu yang ada disampingnya. Sontak Gus Candra yang pada saat itu berada didepannya langsung bergerak mengulurkan tangannya untuk memberi bantuan kepada Mila. Wajahnya pucat, tangan dan kakinyapun lemas, sehingga ia benar-benar tidak bisa mengangat tubuhnya meski hanya untuk sekedar berdiri.

"Terima kasih Gus, tapi saya masih kuat ko, masih bisa sendiri" Mila menolak uluran tangan dari Gus Candra dengan sangat sopan
"Tidak, anda sudah tampak begitu lelah. Biar aku panggilkan santri putri untuk mengantarkan ustadzah kembali kekamar ustadzah".
"Baik Gus, sekali lagi terima kasih."


Bersambung ....

Wednesday, April 27, 2016

Selamat Ulang Tahun Nisak




Kamis, 21 April 2016 
          Dihari itu, sebagian besar wanita indonesia memperingati "Hari Kartini" dengan berbagai kegiatan yang bersifat kewanitaan pula. Tidak hanya dalam dunia pendidikan, sosial, bahkan keagamaan juga menyelenggarakan perayaan itu. Lain tempat, lain pula acara. Jika ditempat, para wanitanya disibukkan dengan kebaya dan sanggulnya tetapi di Desa Rembun, sebuah desa kecil yang terletak ditepi jalan pantura, desa yang 'kata orang' kental akan unsur religinya menyelenggarakan Acara Gema Maulid Nabi Muhammad SAW. Ketika kumandang adzan Isya' terdengar dari Musholla-musholla, semua orang ramai-ramai bergegas mendatanginya, dan ketika semuanya selesai mereka langsung bersiap-siap untuk menghadiri acara yang baru diadakan setelah 4 tahun terakhir fakum. 

          "Alhamdulillah, kita bisa dapet tempat duduk didepan ya ..." sahutku terhadap sepupu yang 
          sedari tadi berjalan beriringan denganku 
          "Iya bener, pas didepan panggung, bisa ngeliatian Habib dan personil hadrohnya dong. wkwk"
          "Hehe, kamu tu bisa aja deh"

        Acarapun berlangsung dengan sangat hikmat, meski angin besar datang dan hujan ikut mengikuti pula namun semua pengunjung merasa senang dan pastinya meninggalkan kesan yang mendalam dihati mereka karena orang yang ditunggu-tunggu ikut hadir dan memberikan tausiyah ditengah-tengah mereka yakni Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya. Tetapi tidak dengan aku, ada apa denganku?


Jum'at, 22 April 2016
          Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, setelah semlaman suntuk mengadiri maulidan itu, mata ini seolah-olah tak mau segera terpejam. Apa aku belum bisa melupakannya? apa aku benar-benar belum move on? Tidakkk .... Tidaaaak ... tidurlah sayang, waktu terus berjalan dan hari demi hari akan terus berganti, diluar sana masih banyak orang membutuhkan tenagamu, sudah saatnya kamu berbaring, istirahat dan tidurlah, tidurlah dengan tenang. Aku mulai bersiap-siap dipembaringanku dan kunyalakan mp3 favoritku tepat disamping telingaku, berharap lagu itu mampu menenangkan pikiranku dan segera mengantarku dalam tidur menjelang pagiku. Kupuar lagi, lagi dan lagi sampai aku benar-benar tertidur dan terbuai dalam mimpi. 

            Mentari mulai menyapa, dan alhamdulillah Aku mampu melewati malam tadi yang benar-benar menggelisahkan aku. . Sudah saatnya aku beraktivitas dan kembali menyapa hari. Usai bersih-bersih, kini dengan santai aku mulai duduk didepan tv dan mencari channel ftv, Akhh, benar-benar film ini mampu menggambarkan perasaanku ini. Hiks hiks ... Hah, aku terlalu lebay dan akhirnya baper. Sudahlah, aku bersi keras untuk tidak memikirkan itu lagi dan akupun tertidur dengan posisi tv yang masih nyala.




Sabtu, 23 April 2016
         Seisi rumah telah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. riuh benar suasana pagi itu, tapi aku masih tetap terbaring diatas tempat tidurku, rupanya sakit melanda hdan akhirnya aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Terlalu lama tidur membuatku pusing dan semua anggota tubuhku benar-benar merasa pegal. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan terduduk lesu diruang tamu sambil menunggu ibu pulang. Dengan nada lirih, aku memintanya untuk membawaku periksa ke dokter namun Ibu yang kala itu duduk disampingku, masih kelelahan dan akhirnya tak bisa mengabulkan permintaanku.




Ahad, 24  April 2016
         Masih tetap dengan kondisi yang sama, badan lemah tak bertenaga dan hanya mampu terbaring ditempat tidur. Rasa bosanpun tak bisa aku hindari, ingin rasanya aku segera beraktivitas seperti biasanya, bekerja, bertemu dengan kawan, bercanda, dan akh... aku rindu semuanya. Rasa itulah yang menjadikan aku semangat untuk melawan penyakit ini, berbagai cara aku lakukan demi kesembuhanku. Aku benar-benar ingin sembuh.




Senin, 25 April 2016
         Aku benar-benar  tak menyangka, pagi ini aku berada ditengah-tengah mereka. Dengan berbekal masker, aku mulai berinterkasi dengan mereka dan hariku kembali seperti biasanya. Terima Kasih tuhan atas karunianya :)




Selasa, 26 April 2016
          Dan inilah hari yang kutunggu-tunggu. Aku tak bisa berharap besar dihari istimewaku ini, karena aku takut kecewa. Namun, mereka, rekan-rekanku tanpa kuduga memberikan kejutan yang membuatku sangat bahagia. Terima Kasih semuanya :)

    Ultah Gue Movie


 

Sunday, March 27, 2016

[Masih] Ingat Mantan???



Apa sih hebatnya mantan?


Hapus nomor dari kontak hape ... udah
Buang semua pemberian darinya ... udah
Hapus semua foto dan chatting sama dia ... juga udah
Blokir semua medsos yang berhubungan dengan dia, 
termasuk teman-teman akrabnya ... yang ini jelas gak ketinggalan


"Tapi kenapa ya? sulit banget buat ngelupain Dia, Padahal? segala usaha telah Aku lakukan" 


             Ehmmm, disitulah letak kelemahanmu kawan. Dengan mudahnya kau terbujuk rayunya dikala proses pendekatan bersamanya, Dia mungkin pernah memperlakukan dirimu sebagai wanita bak princess kerajaan yang begitu dimuliakan. Kamu pasti mengira kalau Dia itu super duper jahat karena telah beberapa kali mengecewakanmu, gak hanya itu, Dia juga sudah tega menghancurkan perasaanmu? Tapi ingat kawan? benarkah begitu? apa putus hubunganmu dengannya hanya kamu saja yang merasa kehilangan? tentu tidak kawan

            Secara naluriah, dua orang manusia lawan jenis yang pernah berkasih sayang dan saling menyatakan diri saling mencintai pasti akan merasakan yang namanya kehilangan, kehampaan dan mungkin kekosongan diri. Jadi tenang saja kawan, apa yang sudah kamu lakukan itu merupakan salah satu langkah awal yang baik untuk melupakannya, mungkin yang perlu diperbaiki adalah "melupakan bukan berarti memutus tali silaturrahmi dengannya, termasuk dengan teman-temannya." Kalau kalian beralasan teman-temannya hanya akan mengingatkan Kalian dengan kenangan bersama mantan itu kurang tepat, karena kalian juga akan kehilangan teman-teman baik darinya.


"Tapi, sekarang Dia sudah ada pengganti. Sedangkan Aku masih sendiri?"


            Ehmmm, Saya tahu ko, bagaimana persaanmu saat ini, Kalian tidak perlu cemburu dan segera mengikutinya mencari pengganti yang baru. Meskipun ada yang mengatakan "Kalau ingin melupakan seseorang, maka segeralah mencari penggantinya",  tetapi Saya kurang sependapat dengan pernyataan tersebut. Seseorang yang begitu berarti dihati Kalian, meskipun hadir hanya sebentar pasti tidak akan mudah untuk memberikan tempat kepada yang lain, meskipun menurut mereka (orang-orang disekelilingmu) Dia yang baru lebih baik dari mantan Kalian dulu. Urusan Dia sudah ada penggantinya, biar itu menjadi urusannya, Kalian jangan pernah sekali-kali untuk mecoba mencari tahu lebih dalam siapa yang menjadi penggantimu, karena itu akan semakin menyakitkanmu. Jadi, hal yang paling tepat untuk menyikapinya adalah, acuhkan mereka dan sibukkanlah diri Kalian dengan kegiatan-kegiatan positif yang menjadikanmu menjadi manusia yang lebih berguna lagi terutama bagi orang-orang yang benar-benar menyayangimu, seperti orang tua, saudara atau sahabat-sahabat kalian.

"Dia itu sudah ada penggantiku, tapi terus saja menghubungiku, mencari perhatianku. Aku terganggu, karena semakin sulit menghapus jejaknya"


           Kalian hebat! itu membuktikan bahwa mantan kamu lebih tidak bisa melupakanmu. Kenapa? jelas terbukti, disini Dialah yang menyakitimu, dengan cara mencari wanita lain tapi kenyataan mengatakan lain, Dia justru memberikan sinyal-sinyal bahwa dihatinya Kalian belum 100% tergantikan. Jadi, kalian tidak perlu mengahabiskan waktumu untuk memikirkannya, mengingatnya kembali. Jika Dia masih Saja menghubungimu, jangan kau tampilkan rasa tidak sukamu itu didepannya, Kalian hanya perlu bersikap kalem dan tampakkan wajah yang ceria untuk membuktikan Kalian itu baik-baik saja.


"Tapi itu masalahnya? Aku belum bisa menampakkan wajah ceriaku didepannya. Hanya bisa berpura-pura tak melihatnya saat berjumpa"


          Tenang Kawan, itu wajar kok semua butuh proses. Melupakan mantan memang tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi perlahan namun pasti kamu pasti bisa, seiring bertambahnya usia, bertambah pula sifat kedewasaanmu itu. Semangat! Kalian pasti bisa. Jadi kesimpulannya adalah jangan terlalu mencoba melupakannya, karena pada dasarnya melupakan adalah pemicu untuk mengingat. Gunakan waktumu untuk meraih cita-citamu. Suatu saat, jika waktunya sudah tepat Kalian pasti akan bertemu dengan jodohmu kok. Kan manusia itu diciptakan berpasang-pasangan dari laki-laki dan perempuan, agar tercipta saling kasih sayang, jadi ... "Tetaplah berlapang dada, dan jangan lupa berdo'a kepada Yang Maha Kuasa Kawan".



"Hem... Terima kasih Kakak ....
"


Friday, December 18, 2015

Meringis tapi menangis

Sepotong es krim yang lucu

Tahukah kawan...
Hari-hariku kini terasa aneh
Iya sangat aneh
Sebentar-sebantar aku asyik tertawa-tawa
Tak berselang lama keningku berkernyit dan bibirku mulai mencibir
Dan akhirnya matakulah yang berkaca-kaca

Aku merindukanmu kawan
Merindukan masa lalu
masa-masa yang telah kita lewati bersama
Dimulai dari ketika kau menyapaku
Berlanjut ketika kita jumpa untuk pertama kalinya
Rasanya... ehmmm lucu tapi ... sesuatu
Dan dari pertemuan itulah kita mulai berbincang-bincang
Ada hal menarik yang ada pada dirimu
Sehingga diam-diam aku simpatik terhadapmu

Ya... waktu berjalan begitu saja
Seiring hubungan kita yang semakin dekat
Entah hubungan apa yang tengah kita rajut bersama
Aku ingin semakin jauh mengenalmu
Aku ingin semakin dekat denganmu
Aku ingin mengahabiskan waktuku bersamamu
Aku juga ingin menemani hari-harimu
Tapi entah kawan ...
Rasa apa yang tengah menyelinap diantara kita berdua
Aku hanya manusia biasa
Yang merasa tersanjung tatkala ada seserang yang perhatian terhadapku
Yang merasa  bahagia ketika ada seseorang yang siap sedia menemaniku
Aku bahagia bersamamu

Mataku semakin berkaca-kaca mengingat hal itu
Tapi tak lama, bibirku kini mulai meringis
Iya ada hal aneh yang menahan butiran-butiran airmataku itu untuk tetap ditempatnya
Bermodalkan keneranian, kau pasang wajah lugu nan lucu
Ditemani sepotong es krim warna coklat dan sepotong lagi warna merah muda
Diiringi derunya kendaraan bermotor yang berlalu lalang dibelakang kita berdiri
Untuk pertama kalinya kau mengatakan
“aku suka kamu, aku pengennya sama kamu, pokoknya dengan kamu”
Jahatnya aku yang tak segera memberi jawaban untukmu
Justru aku meminta kamu mengulangi untuk mengatakannya lagi
Dan sampai akhir pertemuan kita waktu itu
aku hanya tersenyum kecut menanggapinya


Mungkin ekspektasiku terlau tinggi kali ya...
Berharap memperoleh pernyataan cinta dari seorang pria gagah berani
Ditengan taman yang sejuk nan wangi
Dengan membawa seikat bunga dan diringi lagu romantis
Kau bersimpuh dihadapanku kemuadian kau nyatakan perasaanmu
Hahahahaha... aku memang gila
Itu Cuma ada diskenario drama kali
Akh lugu ya,,, peristiwa itu membuatku tertawa geli

Sebentar-sebantar!!!
Bibirku kini tak meringis lagi
Kini titik-tik air mata sudah mulai bercucuran
Sebanarnya aku ada rasa terhadapmu
Tapi aku masih takut bilang cinta
Aku sengaja menahannya
Bukan karena aku tak cinta
Tapi aku takut suatu ketika jika kau pergi meninggalkan aku
Hingga akhirnya muncul kekhawatiran untuk jauh darimu
Aku takut jika suatu saat kau menjauh dariku
Pergi meninggalkan aku...
Untuk itu, aku tak berani mengatakan cinta terhadapmu
Aku ingin hubungan ini terjaga lama
kawan ...
Aku hanya ingin dekat denganmu
Iya, sebatas dekat saja
Aku masih takut bilang cinta

Waktu tetap berjalan
Dan kau masih tetap setia disampingku
Tetap memberi perhatian terhadapku
Aku semakin nyaman denganmu
Ya... aku bahagia dengan status kita yang seperti ini
Hingga suatu ketika (jeng jeng...)
Sikapmu sedikit demi sedikit mulai berubah
Kau mulai menuntutku dengan ini dan itu
Kau melarangku melakukan hal yang aku sukai
Kau mengekang keinginanku
Dan kau memaksaku untuk mengatakan cinta terhadapmu
Aku benci itu kawan, aku benci ...

Kawan ...
Aku belum siap kawan, aku masih bahagia dengan hubungan kita yang seperti ini
Bukankah usia kita masih terlau dini untuk bisa saling mencinta?
Kita harus raih cita-cita kita terlebih dahulu
Aku mau kau terus bertahan untukku
aku mau terus berharap padamu
Aku yang tetap setia menunggumu, meski kau mulai acuh terhadapku

Tapi Tidak ...
Tahukah kamu? Aku tersakiti dengan sikapmu
Kenapa kau tidak mau jujur  terhadapku
Ada wanita lain yang bersanding bersamamu selama ini
Kenapa kau tidak mengatakannya padaku
Mengatakan hal yang sebenarnya terjadi denganmu
Terus membiarkan aku larut dalam penantian kosong
Bodoh .... aku yang bodoh
Aku terlalu percaya terhadapmu
Aku akui aku memang bodoh

Iya bodoh!!!
Sekarang, coba jelaskan
Apa hakku untuk marah?
Apa dia salah? Enggak kan?
Emang kamu siapa? Mau marah-marah seenaknya
Emang dia salah? Dia juga punya hak untuk bahagia
Bukannya dia juga manusia yang butuh kasih sayang
Ketika dia tidak mendapatkan kasih sayang darimu
Ketika kamu tak lagi menjadi harapannuya
Bukan salah dia, jika dia memilih dengan yang lainnya kan?

Hahahaha....
Endingnya aku hanya bisa meringis kemudian menangis ...


Thursday, December 17, 2015

Sekarang kamu (pantas) bahagia


Dulu...
Sebelum berpisah
Untuk terakhir kalinya
Kau mengucapkan kepadaku
“Berpikirah, bahwa aku tak pantas untukmu”
Ingin rasanya aku berteriak sekuat tenaga
Menjelaskan semua rasa didada
Membisikkanmu tentang cinta yang telah ada
Menerangkan bahwa aku tak seburuk yang kau kira
Aku masih pantas untuk terus kau perjuangkan
Dan aku kau juga masih pantas untuk memilikiku

Tapi ...
Kini aku menyadarinya
Jika semua itu harus aku lakukan
Mungkin sampai saat ini
Kau masih merasa tersiksa memperjuangkan aku
Dan kau masih mengkerdilkan dirimu didepanku
Yahh,,, maafkan aku yang dulu egois terhadapmu
Terlalu menghakimimu dengan sebutan yang tak pantas untukmu
Maaf,,, sekali lagi maaf

Kini aku benar-benar sadar
Tak sedikitpun aku punya hak untuk memintamu kembali
Bahagialah bersamanya, tetaplah disisinya
Memebencimu hanya akan meninggalkan noda dihatiku
Aku mengikhaskanmu bukan karena aku tak perjuangkanmu juga
Tapi sekali lagi aku nyatakan
Aku rela kau bersanding dengannya
Dengan dia yang kau anggap pantas dibanding aku
Karena dengan begitu, kau akan terbebas dari aku
Terbebas untuk menjadi dirimu sendiri
Tanpa ada tekanan untuk mengikuti seperti yang ku mau

Satu pintaku untukmu
Jangan pernah sia-siakan dia yang sayang terhadapmu
Yang telah sekuat tenaga memperjuangkanmu
Yang rela mengesampingkan gengsinya demi mendapatkan cintamu

Kamu pantas bahagia dengannya 

Tuesday, December 8, 2015

[masih] Takut Bilang Cinta



Kawan...
Tahukan kau, bahwa diriku kini dilanda rindu ...
Rindu yang begitu dalam terhadapmu
Rindu ingin berjumpa denganmu
Bukan untuk sekedar menatap lekat wajahmu
Atau untuk memegang erat tanganmu
Apalagi sampai menjamah tubuhmu untuk tetap disisiku

Bukan itu,,,,
Aku rindu kebersamaan yang kita lalui bersama
Yaa,,, bersamamu aku tenang
Hari-hariku dipenuhi dengan untaian do’a
Engkau yang selalu mendo’akan aku
Aku rindu kamu ....
Sekali lagi aku rindu kamu

Namun ....
kali ini aku tak mampu lagi bersua dihadapanmu
Meski itu hanya melalui perantara
Sekali lagi aku tak berani
Aku takut kecewa lagi
Karena sikapmu yang telah acuh terhadapku
Kamu, kawanku yang telah menguasai hatiku
Maafkan aku yang dulu pernah mengabaikan rasamu

Ketahuiah kawan ....
bukan berarti aku tak memiliki rasa terhadapmu
Bukan ... sekali lagi bukan
Aku mengagumimu lebih dari sekedar yang kamu tahu
Dan akupun tak pernah mengungkapkan rasaku itu dihadapanmu
Tapi tahukah kamu, kenapa hal itu aku lakukan?
Aku takut suatu saat kebersamaan itu akan hilang
Hilang bersama rasa yang begitu semu
Rasa yang tidak pernah diridhoi oleh Tuhan

Aku takut kawan,,,
Aku masih takut bilang cinta
Aku takut,,,
Dan benar saja
Ketakutan yang selama ini menghantui 
Benar benar terjadi dan menghampiri
Engkau mulai bergegas pergi
Pergi meninggalkan aku
Meninggalkan aku yang telah menaruh hati terhadapmu

Akhh....
Sudahlah, sudahlah
Sudah saatnya aku melupakanmu
Dan tak pernah lagi mengusik hidupmu
Ada sosok wanita lain yang lebih peduli terhadapmu
Yang lebih perhatian terhadapmu
Yang lebih berani mengatakan sayang terhadapmu

Dibanding aku????
Siapa aku?
manusia kerdil yang katanya punya cinta yang begitu besar
namun tak berani untuk mengungkapkannya,,,
Pengecut, iya sebenarnya aku yang pengecut
Bukan salahmu jika kamu pergi meninggalkan aku
Apa untungnya kamu memperjuangkan aku
Aku yang selalu butuh perhatian namun tak pernah mau membalas memberi perhatian
Aku yang selalu ingin disayang tapi tak mau mengungkapkan sayang
Dan aku yang mau harus kau jadikan satu-satunya cinta bagimu
Tapi tak pernah bisa mengerti seberapa besar cintamu
Hingga akhirnya kamu merasa lelah dalam memperjuangkan aku

Dan kini ....
akupun mendapat ganjaran
dari apa yang  dulu aku lakukan terhadapmu
aku merasa kesepian karena kehilanganmu
tapi tidak dengan kamu
jauh disana kamu merasa bahagia,
iya kamu bahagia, ada dia disisimu
Dia yang selalu siap siaga mendengar keluh kesahmu
menyayangimu dengan sepenuh hatinya
dan tak pernah menuntutmu menjadi yang dia mau
melainkan dia yang akan memenuhi kemauanmu
Dia yang akan senantiasa menghadirkan senyuman dibibirmu
semoga kamu benar-benar bahagia bersamanya

Terima kasih Tuhan ...
Aku mohon bahagiakanlah mereka
Hujanilah mereka dengan ridhoMU
Dan terima kasih Tuhan ....
Engkau sudah memperingatkan aku
Kini aku telah sadar dan mengerti 
Sebesar apapun cinta
Sedalam apapun kau menyimpan rasa
Tidak akan pernah ada artinya

jika tidak pernah diungkapkan ....

Monday, October 26, 2015

Untukmu, dan kamu (semestinya) tahu


Dambaku ...
Aku adalah manusia biasa yang senatiasa merasa hampa, untuk itu aku membutuhkanmu. Engkau semestinya tahu bahwa aku bukanlah orang yang kemaruk akan harta, aku juga tidak tergila-gila akan elok rupa begitu juga S2 atau bahkan S3. Engkaupun tahu mengenalmu itu adalah anugerah bagiku, angin kesejukan yang kau tiupkan menggairahkanku untuk bisa melanjutkan hidupku dan selalu membawaku dalam naungan syukur terhadap tuhan.

Dambaku…
Semestinya kamu tahu, kamu fahami itu bahwa selama ini aku hanya setia padamu berharap kita bisa saling mengisi kekosongan yang telah lama menetap dihati dan pikiran. Aku ingin kita saling sama-sama berpacu bersama deru meraih asa menuju masa depan. Maafkan aku yang selama ini memilih diam dan tak pernah mencoba mengatakan rasaku yang sebenarnya tapi percayalah hati ini hanya untukmu, berharap ridhomu untuk melangkah bersama menuju hidup abadi yang bahagia. Dan tahukah kamu selama ini aku berharap banyak padamu? Aku terus menantimu, bukan hanya sekedar menerimamu dikala berhasilmu saja tapi aku juga ingin selalu berada disampingmu untuk menemanimu,  bersedia dibelakangmu untuk mendorong dan memberi semangat  kepadamu begitu pula saat kau tak punya gairah untuk melanjutkan hidupmu, aku akan menawarkan diriku untuk berada satu langkah didepanmu bukan untuk menuntunmu melainkan memberikan kesempatan istirahat bagimu karena aku tahu aku hanyalah seorang alpa yang nantinya juga harus tetap berada dibelakangmu, menjadi makmummu.

Dambaku…
Aku tahu, kita berdua masih dalam keadaan tak punya, masih kerdil dan tak berdaya untuk itu aku ingin kita terus berproses dan berusaha. Aku tak ingin kita saling mengucap janji untuk saling setia, bukan aku tak percaya akan ketulusan niatmu tapi aku memberi kesempatan untuk kita saling memperbaiki diri. Aku tak ingin kau hanya menjadi khayalku, karena aku ingin kita ada dalam keseriusan didalam dunia realita. Untuk itu aku mohon bersabarlah untuk kebahagiaan itu, mari kita titi bersama hidup kita. Tentu saja kebahagiaan yang kita mau tak sumudah yang kita kira, penuh penderitaan dan juga tantangan.

Dambaku ...
Aku tahu aku memang egois untuk mendapakan itu semua, tapi sekali lagi aku tahu kamu bukanlah seorang raja namun aku siap menemanimu untuk menjadi seorang raja dalam keluarga. Kuminta kepadamu saat diriku terlena kau mau untuk selalu menetapkanku pada keyakinanku itu. Ketika janji adalah sebuah hutang dan hutang adalah tanggungan, dikala itu aku tak mau membebanimu dengan segala harapku, dan akupun tak mau merasakan ragu akan dirimu. Aku yakin engkaulah lenteraku, yang menjadikan semu berubah jernih, yang tak akan pernah bisa menjemukan.

Dambaku ...

Suatu saat nanti, dikala kita ditakdirkan tuhan untuk bersatu dalam keluarga, yang meskipun engkau akan manjadi engkau dan aku tetaplah menjadi aku tapi karena rahmat Tuhan, yang jemu akan menjadi lekat, yang jauh menjadi dekat, yang beda menjadi sama, lawan menjadi kawan, benci jadi cinta yang akan terus membara. Aku mau rasaku ini bukanlah maya, dan kata ini bukan sekedar dusta semuanya nanti pasti ada. Menyatulah denganku, agar aku akan terus berkobar seiring senyum dan bahagia, terus membara seiring dekap dan cinta dan kian berkembang seiring belai dan sayang menapakai jalan suci menuju ridho Ilahi.

Saturday, October 17, 2015

Catatan pait diusia yang (katanya) sweet



CITA-CITA atau CINTA?
Dua hal yang  sulit untuk dibuang jauh-jauh dari pikiran. Cita-cita menjanjikan kebahagiaan dimasa yang akan datang, sedangkan Cinta? Suatu hal yang selalu mengiringi hidup seseorang disetiap harinya dan mungkin bisa jadi hal yang menjadi pemacu untuk meraih cita-cita atau malah bisa menghancurkannya??? (entahlah).

Kisah ini terinspirasi dari seorang gadis kecil yang sedang menikmati masa remajanya, sejuta cita yang telah ia rencanakan demi masa depannya namun disaat yang bersamaan cinta pertama hadir baginya. Bimbang, harus tetap konsentrasi dengan cita-citanya itu, atau sejenak mengabaikannya. Sementara kisah cinta yang penuh dengan misteri baginya dengan sikapnya yang masih polos dan begitu saja percaya pada orang-orang sekitarnya membuat ia harus jatuh bangun menyemangati dirinya sendiri demi melanjutkan hidupnya.

Lelah yang menerpa membuat aku harus beristirahat total berbaring ditempat tidurku, Yaa tidak hanya banyak ilmu dan pengalaman yang kuperoleh dari kegiatan Latihan Kader Muda kemarin, terpaksa tubuh ini terbaring lemas diatas ranjang selama dua hari. Ditengah istirahatku, Aku mencoba mengalihkan rasa lelah dengan sesekali aku buka akun social mediaku.

26 Desember 2103, pukul 20.00 WIB
Bagas Ardianto mengirim permintaan pertemanan dengan anda,  notifikasi dari akun Anisa Dwi Kamila, gadis yang baru saja menyelesaikan belajar ditingkat menengah kejuruan (akun facebookku). Sebelum aku menerima permintaan pertemanan darinya, aku coba buka-buka profil akunnya dan ternyata Ialah orang yang sudah mengantarku pulang dari LAKMUD kemarin, setelah cukup informasi yang aku dapat, langsung saja aku menambahkan dia kedalam daftar pertemananku.  Tak lama aku menerima permintaan pertemanannya, Ia langsung mengirim messege dalam *ku

“terima kasih atas konfirmasinya”
“iya, matama”
“gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik-baik aja, tapi gak tau berat badanku turun apa enggak, hahaha”
“pasti turun, kemarin aja waktu pulang dari LAKMUD aku turun lumayan banyak kok”
Dan chattingpun berhenti sampai disini

Jum’at, 27 Desember 2013, ba’da Sholat Jum’at
Pesan singkat dari nomor baru masuk dikontak hape kantorku
 “met siang? Lagi apa nih?”

Lama aku membiarkan pesan itu terbuka dan aku tak segera membalasnya. Selang beberapa menit, aku mencoba membalasnya barangkali nomor penting, pikirku saat itu.

“siang, maaf ini siapa?”
“ya, kayak gitu! Gara-gara kemarin diantar pulang Kak Bagas Kau begitu saja melupakan aku” balas singkat
“ehm, kalo dari bahasanya kayaknya ini Hamzah yaa?”
“gimana kabarnya?  Kemarin dianter pulang ma siapa?”
“Alhamdulillah baik-baik saja, lho tadi kan udah tau kalo aku dianter sama Kak Bagas, nah kok malah nanya lagi tu gimana ? ngetes yaa?”
“gimana kemarin dianter sama Kak Bagas?”
“hems, biasa aja tuh! Emang kenapa?”
“pasti seneng dianter sama Kak Bagas”
“enggak kok, beneran biasa aja lagian pas kemarin aja aku minta anter pulang, kamunya gak mau, jadi berhubung Kak Bagas baik hati menawariku untuk pulang bareng ya aku mau ja.”
“Lagi apa nih?”
“lagi nyantai aja?”
 “yaya, udah makan belom?”
“udah kok? Kamu sendiri lagia ap?”
“lagi nopi nih?”

Aku tinggalkan ponselku kemudian melanjutkan aktivitasku sampai semuanya benar-benar selesai Aku kerjakan. Pukul 16.00 pesan singkat kembali masuk dalam ponselku, dari nomor baru yang masih sama dengan nomor sebelumnya
*
“sore, lagi apa nih?”
“sore, lagi nyantai aja”
“udah mandi blom?”
“blom, kalo liburan emang aku jarang mandi kok? Hahah”
“pantesan bau”
“hems, biarin”
“bau wangi maksudnya”
“akh, masak?”
“iya beneran, lagi apa”
“lagi nyante, masak dari tadi nanyanya lagi apa mulu. Bosen tau?”
“hehe”

***

Sabtu, 28 Desember 2013. Pukul 16.15 WIB
*
“sore . . .”
“lagi apa nih?”
“kok gak dibales sih?”
“lagi apa?”
Berkali-kali smsnya masuk dalam ponselku dan tak ingin menecewakan akupun segera membalas pesan
“sore, maaf aku baru pulang ngaji. Ada apa?
“kok lama banget balesnya”
“iya, aku kan udah bilang, aku baru pulang?”
“tadi kamu boncengan motor pergi kepantai yaa?”
“enggak kok, dari tadi aku dirumah aja”
“tapi aku kaya liat kamu dipantai.”
“tapi beneran dari tadi aku dirumah aja. Kalo gak percaya ya udah.”
“ya, ya jangan marah donk?”

Disisi lain, akun social mediaku ramai dengan foto-foto kegiatan kemarin waktu LAKMUD, like-like dan komentar-komentar candaan dari anggota semakin meramaikan dunia maya namun aku belum tertarik untuk bergabung dengan mereka, masih malu. Berkali-kali update-an status yang menandai akunku dan seabrek cewek-cewek oleh Bagas Ardianto, entah apa maksudnya,aku tak tahu yang jelas notifikasinya sampai memenuhi kronologiku.
Tiba-tiba ada inbox di*ku

“(emotikon bergambar hati)”
“???”
“gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, baik”

Dari nomor kantorku pesan masuk dari Kak Nita
*
“Sa, besok jalan-jalan yuk?”
“jalan-jalan kemana?”
“cari duren” maklumlah saat itu masih musimnya duren dan masih seger-segernya
“ikh, males akh, baru ja kemarin aku gak dirumah masak langsung mau pergi-pergi lagian aku gak suka duren”
“gak suka duren sukanya apa? Singkong?”
“yah, bisa jadi bisa jadi.”
“ayoklah Sa, nanti aku boncengan bareng Iqbal dan kamu sama Bagas”

Sebelum membalasnya, aku masih pikir-pikir dulu. Sekilas terbayang kebaikan Kak  Bagas terhadapku, ketulusannya waktu Ia mengantarkan aku pulang, dia memang gak tau siapa aku, dari mana asalku dan baik buruknya aku, tapi dialah orang yang bersedia mengantarku sampai depan rumahku. Saat itu, aku benar-benar bingung bagaimana cara aku pulang, sedangkan waktu berangkat aku bareng Kak Nita tapi dia memilih pulang dengan Iqbal. Kecewa tentunya karena orang yang sudah aku percaya malah mementingkan kepentingannya sendiri tapi (emang loe siapa ; dalam hati aku menggerutu sendiri) inilah yang namanya hidup, saat kamu tak bisa bertahan dengan mudahnya kamu akan tersingkirkan dari lainnya. Well, aku harus berbesar hati menerima setiap perlakuan darinya.
*
“enggak akh, maaf ya? Kalo lain kali gimana?”
“ayiip tah”

Dalam hati aku ingin sekali membalas budi baik dari Kak Bagas, tapi kembali kupertimbangkan, gak begitu saja aku bisa keluar rumah. Aku juga harus jaga perasaan Ibuku, dan setelah dua hari meninggalkan rumah aku harus tau diri, sedikit membantu meringankan pekerjaannya. Dan kini, aku benar-benar mantap untuk tetap stay dirumah.

Hamzah Sulungboy, akun baru meminta permintaan pertemanan dariku, dan tak menunggu lama aku langsung membuka-buka profilnya, penasaran tentunya dan dugaanku benar ternyata Dia memang orang yang aku tunggu selama ini,  Hamzah. Bahagia rasanya saat dia meminta pertemanan denganku. Kali ini, sebelum benar-benar mengkonfirmasinya aku buka-buka koleksi fotonya, kesukannya, status-statusnya dan yang paling penting biodatanya. Dan saat aku membaca bagian ini, aku langsung kaget tak percaya ternyata usianya baru 16 tahun, setahun lebih muda dariku dan dia masih anak sekolahan sedangkan aku sudah menyelesaikan sekolah menengah kejuruanku. Bimbang dan kecewa tentu tak dapat aku sembunyikan. Disatu sisi aku ingin belajar mencintainya, menerima apa adanya tapi setelah melihat profilnya aku benar-benar bingung, apa yang musti aku lakukan.

***

Sabtu, 29 Desember 2013.
Kubuka ponselku dan kulihat beberapa pesan baru masuk
*
“malem”
“malem juga”
“lagi apa ni?”
“nyante aja, kamu?”
“iya sama, tadi kamu pergi kepantai yaa?”
“enggak kok, aku ini anak rumahan tau, gak mungkin aku keluar malem-malem. Hahahah
 “tapi aku kaya liat kamu, beneran!”
“palingan mirip doank, kamu salah orang kali”
“enggak beneran, itu kamu”
“terserah kamu aja, pokoknya aku udah jujur, percaya ya Alhamdulillah gak percaya ya udah”
“Iih, jangan gitu dong?”
“lha emang aku harus ngomong kaya gimana lagi biar kamu percaya”

30 Desember 2013
*
“malem”
“malem juga”
“lagi apa ni?”
“baru pulang ngaji, emang kenapa”
“kamu mau gak jadi pacarku”
“waduuh?”
“mau gak?”
“bukannya aku gak mau tapi kita masih kecil belom saatnya untuk pacar-pacaran”
“jangan-jangan kamu udah punya cowok ya?”
“iih, sapa yang bilang? Orang aku aja belom pernah pacaran”
“terus kamu mau gak jadi pacarku”
“Au akh, ngobrol yang lain aja gimana?”
“emang mau ngobrol apaan?”
“eh, disitu ada maulidan gak?”
“ada donk, emang kenapa?”
“nah kamu ikutan apa enggak?”
“iya ikutan”
“ya udah konsentrasi aja maulidannya biar dapet banyak berkah”
“orang udah selesai kok maulidannya”
“ohh, disini kok baru dimulai yaa? Ya udah tak tinggal ikut maulidan dulu yaa?”

31 Desember 2013
Kali ini pesan masuk dari sahabatku sejak di bangku SMP. Ia juga teman seperjuanganku, saat Praktek Kerja Industri di  Sekolah Menengah Kejuruan ialah sahabat yang setia menemaniku. Sejak aku mengenalnya sampai saat ini Ia masih tetap tinggal diarea Pondok Pesantren, menimba ilmu disana.
*
“ayok nis kita jalan-jalan?”
“jalan-jalan kemana?”
“ke Borobudur, pengen beli baju nih?”
“ayok”
“tapi aku ngaak tahu tempatnya?”
“sama, aku juga. Tapi ntar kita cari bareng” disana aja gimana?”
“iya deh”
“hems, tapi ini kan tanggal tua, aku udah gak pegang uang kali!”
“ga papa, ntar aku yang bayarin deh. Santai aja.”
“gak akh, ngrepotin. Gimana kalo ntar-ntaran aja”
“gak bisa Nis, mumpung aku lagi punya duit nih? Kalo ntar-ntar duitnya habis.”
“ya udah. Aku Cuma bisa nganter aja ya?”
“oke”
“ya udah tak tunggu dirumah yaa?”
“ok”

Iapun datang bersama teman perempuannya naik sepeda motor
“Assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam”
“tunggu bentar yaa?”
“ia”
“ayok,udah siap nih?”
“ayok”

Dan untuk pertama kalinya Aku pergi ke Kota Pekalongan hanya berbekal uang 5.000,00 rupiah saja. Benar-benar nekat, tapi ya sudahlah, demi sahabatku itu apa yang bisa aku lakukan, akan aku lakukan. Dialah seseorang yang selama ini siap mendengarkan curahan hatiku, menemaniku saat-saat sedihku dan Dia pula orang yang menyemangatiku untuk menjadi yang lebih baik lagi. Keberadaannya benar-benar banyak memberikan nilai positif bagiku.

Kamipun mulai berjalan menuju jalan raya, menunggu angkutan umum dipinggiran jalan dan setelah menunggu beberapa lama akhirnya angkutan umum datang juga, kami masuk dan mulai duduk didalamnya.
“waduuh, macet ya?”
“iyalah, nduk namanya juga mau tahun baru. Jalanan rame” Jawab si Kernet Bis
“mau kemana mb’? Tanya penumpang lain yang masih tetanggaku
“jalan-jalan aja.”
“sama siapa aja?”
“tuh didepan, temen-temen aku.”
“owh, Mb sendiri mau kemana? Kuliah yaa?”
“ini mau kesini, enggak kuliah kok.”
“owh?”
“ya udah, aku turun dulu yaa?” sambil keluar dari Bis dan m
asuk ke blok Pasar
“iya, ati-ati Mb’?

“Mb’nya mau kemana?”
“ke Borobudur Om.” Sambil member ongkos Bis
“Owh, lewat Simpang lima aja ya?”
“terserah Om, yang penting jalan yang paling deket aja?”
“ya, kalo lewat sana paling deket, ntar mau naik angkot lagi apa gimana?
“jalan kaki Om”
“Owh, kalo gitu jauh juga. Tapi itu jalan terdekat.”
“ngomong-ngomong uangnya pas ya Om?”
“iya tho, kan ini Tahun Baru jadi ongkosnya naik.”
“nah kan tahun barunya besok, kenapa naiknya sekarang?”
“ya, kamu liat aja sekarang. Jalanan udah ramai kan?”
“ya Udah”

Tempat yang ditujupun hampir  sampai, namun harus butuh perjuangan. Penampilan ala Anak Santri ditengah ramainya kota dan Lalu lalang kendaraan bermotor membuat Kami bertiga terlihat seperti sekumpulan pengembara yang tak tahu mana arah yang harus kami tempuh. Dan benar saja, ditengah perjalanan Kami sempat tersesat. Sempat bingung harus mengambil jalan yang mana, dan Kami putuskan untuk sejenak beristirahat.

“Eh, ada pameran Buku! Kita mampir yuk!”
“ayok, tapi . . .”
“ya udah sih tinggal masuk aja.” Sambil bergegas menggandengku
“ya udah, Cuma liat-liat aja nih judulnya?”
“itu urusan nanti, yang penting mampir aja dulu. Mumpung ada kesempatan.”

Kami bertigapun masuk dalam pameran itu, mencoba membuka-buka beberapa buku yang tertata rapi didepan kami, mulai dari Novel remaja, Buku Religi, Buku anak-anak, Buku bergambar, Buku Kesehatan, Buku Pebisnis, Buku Pegetahuan Umum sampai Buku-buku terjemahan Kitab-kitab Salaf, yang jelas berbagai macam buku ada dalam pameran itu. Sayang memang waktu itu aku gak bawa uang dan akhirnya aku hanya bisa memuaskan mataku, pulang dengan tangan kosong.

Dan perjalanan dilanjutkan . . .
“maaf Bu, jalan menuju Borobudur mana ya?”
“Borobudur mall ya Nduk (sebutan khas untuk seorang gadis)?”
“ha’a Bu?”
“Owh, lewat sini aja Nduk. Jalan lurus aja, terus kalau ada jembatan belok kanan.”
“Owh, ya udah. Makasih ya Bu’?
“iya, sama-sama.”

Cukup lama memang kita bertiga mencari jalan, Setelah berjuang ditengah teriknya matahari, akhirnya kami bertiga sampai tujuan. Menikmati wisata belanja ala kadarnya, hanya melihat-lihat dan akhirnya Kami memutuskan untuk pulang.

Sepulang Jenk-jonk (tanpa membeli apa-apa), yang namanya badan pasti rasanya gak karuan. Bayangkan saja pergi ke kota hanya bermodalkan 5rb saja, tanpa jajan, tanpa membeli barang satupun. Hufft . . .
Dan tiba-tiba, pesan masuk kembali datang dari Kak Nita
*
“Sa, mau ikut malem tahun baru-an di Rumah Kak Ari gak?”
“Hems,kalau Kakak Ikut ya aku ikut juga. Tapi aku dijemput yaa?”
“ya,a ku juga takut kok kalo keluar malem”
“lha terus gimana?”
“ntar Bagas yang jemput kamu, aku dijemput lainnya gimana?”
“waduuh, kalo gitu mah aku gak berani. Barusan aku abis jalan-jalan. Capek”
“jalan-jalan dari mana hayo?”
“iya,  tadi dari Pekalongan.”
“gimana, jadi ikut gak?”
“enggak akh, aku takut keluar malem. Lagian baru aja aku pulang. Masa aku mau pergi lagi.”
“kalau gitu, aku juga gak mau ikut. Males sendirian”
“lho, gimana jadinya?”
“gak tau ntar”
“ikut aja sana. Sampaikan maaf dariku yaa gak bisa ikut bergabung?”


Berkali-kali aku menolak ajakan dari Kak Bagas, sebenarnya dalam hati aku ingin sekali menerima setiap tawaran baiknya, bukan karena apa-apa tapi aku hanya ingin membalas segala kebaikannya terhadapku. Aku merasa bersalah jika aku memang benar-benar menjadi manusia yang tidak tau berterima kasih.

* pesan masuk dari Hamzah
“malem...”
“malem juga”
“kamu percaya gak yang namanya Cinta pada pandangan pertama”
“Ehm, percaya sih percaya tapi kan gak segitu mudahnya perlu dibuktikan dengan kwalitas dari masing-masing yang dicintai.”
“aku suka kamu”
“wadau . . .”
“gimana? Aku beneran suka sama kamu? Mau gak jadi pacarku?”
“apa? Kita masih kecil belum waktunya pacaran”
“jangan-jangan kamu sudah punya cowok yaa?”
“dari awal kan aku udah bilang, aku blom pernah pacaran jadi ya blom punya cowok.”
“terus kamu mau gak jadi pacarku?”
“lah emang apa yang kamu suka dari aku?”
“aku suka sifatmu?”
“terus coba jelaskan sama aku, manfaatnya pacaran itu apa?”
“ya aku pengen kamu jadi penyemanagatku”
“waduh? Pacarannya ntar2 aja lebih baik kamu bahagian Ibu Bapak kamu dulu baru boleh pacaran”
“tapi aku suka sama kamu? Mau gak jadi pacarku?”
“bukannya aku gak mau, tapi menurut aku lebih baik konsen belajar dulu, sukses dulu, bahagiain ortu dulu. Baru bisa pacar-pacaran.”
“ouh, kalo gitu aku minta maaf udah ganggu kamu”
“lha kok mlah minta maaf, aku gak ngerasa keganggu kok nyantai aja kali”
“Hamzah, kamu gak papa kan? gimana? Tanpa harus jadi pacar aku masih siap kok untuk menyemangati hidup kamu.” Aku kembali meyakinkannya untuk belum menjalin hubungan selain berteman.

***
Bingung harus bagaimana, disatu sisi sebenarnya aku juga suka sama Hamzah tapi aku masih mempertimbangkan usianya saat itu. Ia masih duduk dibangku sekolah, sedangkan aku sudah bekerja, rasanya belum ada kata cocok untuk kami berdua. Disisi lain Kak Bagas juga mulai gencar-gencarnya mengutarakan cinta terhadapku, entah itu serius atau hanya candaan belaka, tetap saja membuat pikiranku terbelah menjadi dua. Jika aku boleh memilih, lebih baik aku menunggu sampai Hamzah dewasa, baru menjalin hubungan dengannya daripada saat itu aku harus menjalin hubungan dengan Kak Bagas yang tak sedikitpun dariku ada rasa suka terhadapnya. Dan akhirnya aku memilih untuk tidak memilih siapa-siapa.

Facebook kembali diramaikan dengan status-status dan komentar-komentar alay yang dilontarkan Kak Bagas sampai-sampai aku mendapat gelar “Princess Egg” darinya. Perlakuannya terhadapku memang mampu mencuri hatiku, sanjungan-sanjungannya, perhatiannya dan juga segala kebaikannya mampu mengalihkan perhatianku dari Hamzah.  Tapi aku juga merasa bersalah, jika aku benar-benar menerima cintanya, karena dari awal aku hanya ingin membalas budi baiknya tidak lebih.

Lama aku menunggu kabar dari Hamzah, berharap dia masih tetap berhubungan baik terhadapku setelah kejadian kemarin, ingin sekali aku mengenalnya lebih jauh lagi, tapi kenapa sampai berhari-hari dia tidak memberi kabar kepadaku? Mengapa justru orang lain yang tidak aku harapkan memberikan perhatian yang lebih kepadaku? Apa aku harus melupakanmu dan menerima cinta Kak Bagas? Entahlah

Berkali-kali Kak Bagas memperlakukan aku dengan begitu anggunnya, menyanjungku dan membesarkan kepalaku hingga aku terbuai oleh gombalan manisnya, sempat terfikirkan olehku untuk segera menerima cintanya tapi bagaimana dengan Kisah cinta pertamaku bersama Hamzah? Akankah hilang begitu saja tergantikan dengan Kak Bagas?

***

“Sa, aku mau ngomong sama kmu? Tapi kamu jangan marah yaa?”
“nah emang mau ngomong apa?”
“sebenarnya pas kemarin aku mau ajak kamu jalan terus kamu gak mau aku malah jalan-jalan berdua sama Bagas?”
“nah kok bisa?”
“iya, sebenarnya aku juga Cuma bercanda doang sih ngajak dia, eh dianya malah beneran nanggepin sampe-sampe dia jemput aku di depan kantor.”
“ooh. . .”
“pliss, jangan marah ya?”
“tapi kenapa Bagasnya bilang ma aku kalo dia gak jadi jalan-jalan padahal katanya dia sudah didepan masjid. Aku
jadi bingung”
“iya, sebenarnya juga waktu itu aku gak enak sama kamu. Pliis jangan marah yaa?”

Dan Bla bla bla . . . . penjelasan yang panjang dan lebar serta menghabiskan waktu yang lama, tidak hanya membuat kepalaku mau pecah tapi telingakupun memerah. Oh Tuhann . . ..Campur aduk rasanya. Hatiku mulai bertanya-tanya apakah aku masih cukup polos sehingga aku selalu dipermainkan oleh orang-orang disekitarku? Mengapa Kak Bagas yang dimataku tampak begitu baik dan tulus tapi dibelakangku Ia orang yang bukan aku kenal? Berkepribadian gandakah ia? Saat aku mencoba untuk membuka hatiku untuknya mengapa malah ia berbelok dariku? Disatu sisi, orang yang selama ini aku percaya malah menusukku dari belakang. Ya Kak Nita, orang yang sudah aku anggap teman baikku malah menusukku dari belakang. Aku bingung Tuhan harus percaya pada siapa lagi??? . . . Hiks hiks hiks.

GALAU karena sudah menyia-nyiakan Cinta pertama dari Hamzah
GALAU karena terlau berharap lebih terhadap orang yang baru aku kenal yang ternyata susah untuk ditebak
GALAU karena orang yang sudah aku percaya selama ini malah memanfaatkan aku demi kepentingannya sendiri
TUHANNNN Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya namun hanya air  mata yang bisa mengekspresikannya. . .

Dan untuk kesekian kalinya aku ingin masih terlihat baik-baik saja, tersenyum dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku mencoba ingin tetap berbuat baik terhadap siapa saja. Semua hal buruk yang telah aku lalui akan aku jadikan pelajaran yang sangat berharga bagiku. Tak ada kata dendam untuk siapa-siapa saja yang Aku anggap telah mengkhianatiku. Meski sakit rasanya tapi Aku akan tetap bertahan semampu dan sekuat diriku. Dengan berbesar hati aku mencoba menerima segala perlakuan yang telah ia berikan terhadapku. Dan mulai kejadian itu, aku benar-benar harus hati-hati dan membatasi diri seberapa jauh aku dekat dengannya. Fisik boleh saja terlihat bersama, namun akan terasa jauh bilamana hati tak ingin menyatu.

Sementara disisi lain, saat aku merasa begitu sakit hati. Lantas  Aku mulai berpikir, Apa coba hakku untuk marah? Emang Aku siapa? Terus kalau aku marah semua akan berubah sesuai keinginan diriku sendiri. “Yang jelas itu semua bukan salah mereka tapi salah kamu, kamu yang belum juga pandai menempatkan posisimu, belum pandai membaca suasana dan belum pandai untuk bersikap sewajarnya.” Pikirku dalam hati

Hari berganti hari, dan peristiwa itupun berlalu begitu saja. Aku mulai membuang jauh setiap pikiran-pikiran negative dan mulai bagkit melupakan setiap peristiwa yang tidak mengenakkan hatiku. Tetap bersikap baik dengan siapa saja berharap semuanya akan baik-baik saja, karena dalam hatiku memiliki keyakinan bahwa apa yang telah kamu lakukan, entah itu baik atau buruk itu semua akan kembali keasalnya. Ingat bahwa hukum karma itu pasti ada.

Suatu hari, otakku benar-benar memutar kembali kisah lama yang telah terangkai begitu rapinya. Satu persatu peristiwa itu mulai Aku ingat dan saat kuingat kisah  Cinta Pertamaku, rasa sesal yang begitu mendalam tak dapat aku sembunyikan. Hamzah, seorang pria yang Aku idamkan selama ini, Pintar, rajin, taat beribadah, dan segala  kepribadiannya yang mengagumkan hingga sama sekali membuatku tidak menyangka kalau Dia masih 17 tahun. Hems . . . sayang berlalu begitu saja. Andai saja waktu dapat diputar, pasti saat Dia menyatakan cinta terhadapku pasti aku tidak akan menolaknya, tidak akan mencemaskan seberapa usianya, toh nyatanya sikapnya itu jauh lebih dewasa.

Oh Tuhannn, jadikan kisah ini kisah indah dalam hidupku dan biarkan Ia  tetap tinggal dalam kalbuku hingga saat yang tepat aku membukanya lagi dan menjadikannya pelajaran penting dalam hidupku. Amiiin . . .

***
Cinta pertama? Apa itu?
Hanya berlalu begitu saja, banyak sudah aku harapkan dari hal itu, mencoba menyandarkan hati dan melabuhkan jiwa. Namun, apa yang aku rasa? Jauh dari kata bahagia. Penantian panjang, berharap lebih dari seseorang yang disayang. Namun kenyataan berkata lain ....

“Luv you”
Tiba-tiba akun Bagas Ardianto mengirimi aku sebuah pesan singkat
“apaan” balasku singkat
“lope-lopean”
“idiihlah, alay ihh kamu. Sukanya ikut arus”
“ihh, la emang harus gimana?”
“gak tau lah, kamu kan yang lebih dewasa, harusnya kamu lebih tau dong?”
“apaan”

Niat baik Kak Bagas untuk menyampaikan maksud hatinya justru aku tanggapi dengan kurang baik. Maklumlah saat itu tidak ada pria lain lagi yang mampu mengambil hatiku selain Hamzah. Selain itu aku juga belum bisa menerima semua yang ada pada dirinya, yang selalu manis dengan bahasa yang begitu indah didepanku tapi tidak jika dibelakangku buktinya sudah beberapa kali Dia berbohong kepadaku namun tak pernah dia mengakuinya. selain itu Dia juga pria yang tempramen, Saat Dia marah dengan mudahnya dia mengeluarkan kata-kata yang ehmmmm.... terbukti dengan status-statusnya yang dengan bangganya Dia posting di dunia maya, geleng-geleng aku memahaminya. Walaupun aku tahu tak ada manusia yang sempurna, akan tetapi paling tidak Dia bisa menjaga tutur katanya. Terus urusanku apaan? Emang aku siapa? Berhakkah aku untuk ikut campur dalam kehidupannya...

Hari berganti, berlalu begitu saja. Dengan bodohnya masih saja aku mengharapkan cinta pertamaku yang kandas tak jelas. Hei... bangun!!! Bangun dari tidurmu! Mana ada Cinderella masa  kini. Lupakan Dia! Come On Anisa! Come On! Coba deh mulai buka hati untuk orang lain, ada Kak Bagas yang selalu berjuang untuk mendapatkanmu. Bukankah Dia juga sudah banyak berbuat baik terhadapmu, cobalah balas kebaikannya dengan keramahan, syukur-syukur bisa terima cintanya. Bukankah itu lebih baik bagimu? Tapi tunggu dulu, aku ingin bisa menerima Dia apa adanya bukan sekedar pelarian semata, bukan hanya untuk menghapus kesedihanku karena kepergian Hamzah.

Pikiran dan hatiku terus saja beradu, meskipun secara logika mungkin Kak Bagas lebih baik untukku tapi hati tetap saja terpaut pada satu nama yakni Hamzah, remaja yang dulunya ingin aku perjuangkan. Aku tidak bisa terus-terusan begini tidak hanya menyakitkanku tapi juga Kak Bagas yang sudah memperjuangkanmu dan akan merasa kecewa jika kamu hanya memberikan harapan kosong semata. “Sudah!!! Sudahi semua sandiwaramu, jika suka bilang suka dan jika tidak katakan sejujurnya. Jangan hanya memanfaatkan situasi, kamu jadi egois sendiri. Ingin bahagia, sementara Dia merugi karna sayangmu tidak tulus. Lebih baik kamu akhiri dari sekarang! Tentukan pilihan”  Ok aku sudah mantap sekarang, dan aku memutuskan untuk tidak menerima Kak Bagas sebagai kekasih, sedikit demi sedikit aku mulai abai padanya dan berharap Dia tidak akan merasa jauh lebih sakit jika aku meninggalkannya. Satu keyakinanku saat ini “Dan  ingat tetap berusaha keras untuk melupakan Hamzah, memaafkan yang salah meski itu berat dijalani dan tidak sekali-kali memberikan harapan kosong kepada Dia yang tidak kamu kehendaki untuk semakin menyakitinya! Ya... Sendiri dulu tanpa seorang teman spesial dihatimu J
Dan Aku yakin aku pasti bisa menjalani semuanya. J



-THE END-

Bersambung ke ceritaku  selanjutnya ....